BSN Telah Tetapkan 1.874 SNI Bidang Pangan

Jakarta- Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menetapkan sebanyak 1.874 Standar Nasional Indonesia (SNI) di bidang pertanian dan teknologi pangan. Beberapa SNI telah menjadi dasar pengusulan Indonesia dalam menyusun standar internasional pangan, khususnya Standar Codex. Standar Codex yang diusulkan Indonesia dan telah ditetapkan adalah Mi instant (CODEX STAN 249-2006), Edible Sago Flour (CODEX STAN 301R-2011), dan Tempe (CODEX STAN 313R-2013). Sementara standar lain yang masih dalam proses perumusan, adalah Standar Codex mengenai lada hitam, lada putih, pala, dan bawang merah. Mengusung tema “Peranan Indonesia dalam Forum Standar Pangan Internasional, Codex Alimentarius Commission”, BSN memperkenalkan standar pangan Indonesia pada pameran peringatan Hari Pangan Sedunia di Boyolali, Jawa Tengah, yang berlangsung hingga Senin (31/10). Pameran kali ini secara khusus mempromosikan standar tempe. Kepala BSN Bambang Prasetya mengatakan, tempe yang merupakan makanan asli Indonesia telah menjadi perhatian masyarakat ilmiah internasional. Salah satunya ketika diselenggarakannya simposium yang disponsori oleh PBB, yaitu Internasional Symposium on Indigenous Fermented Foods di Bangkok pada November 1977, yang dihadiri lebih dari 450 ilmuwan terkenal dari seluruh dunia. Pada simposium ini didiskusikan 17 makalah tentang tempe. Selain itu, agar produk tempe diterima di tingkat internasional, Indonesia juga mengusulkan penyusunan Standar Regional Codex mengenai Tempe (CODEX STAN 313R-2013) yang ditetapkan pada Sidang Codex Alimentarius Commission (CAC) ke-36 di Roma, Italia, 2013. “Penetapan Standar Codex diharapkan juga menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk dapat meningkatkan mutu tempe nasional sehingga memiliki daya saing. Untuk itu, telah ditetapkan revisi SNI tempe kedelai yang selaras dengan Standar Codex,” kata Bambang, Minggu (30/10). Menurut Bambang, BSN telah menerbitkan SNI 3144:2015 Tempe Kedelai, yang dirumuskan oleh Panitia Teknis 67-04 Makanan dan Minuman. SNI tersebut merupakan revisi dari SNI 3144:2009, tempe kedele. “Standar yang baru ini menetapkan istilah dan definisi, komposisi, syarat mutu, pengambilan contoh, dan cara uji tempe kedelai segar atau tempe kedelai beku. Hal lain yang ditentukan dalam SNI 3144:2015 ini menyangkut pengemasan dan pelabelan,” kata Bambang. Berdasarkan SNI ini, kemasan tempe kedelai tertutup baik, tidak dipengaruhi atau mempengaruhi isi, aman dan tahan selama penyimpanan maupun pengangkutan. Sementara syarat penandaan tempe mengacu pada ketentuan yang berlaku tentang label dan iklan pangan. Seperti diketahui, CAC merupakan badan internasional yang dibentuk atas dasar program standar pangan FAO/WHO pada 1963, dan diberi mandat untuk mengembangkan standar pangan dalam rangka melindungi kesehatan konsumen dan menjamin praktik yang jujur dalam perdagangan pangan internasional. Peranan BSN dalam organisasi tersebut adalah sebagai penghubung kegiatan Codex antara Sekretariat Codex di Roma, Italia, dan pemerintah Indonesia. Dalam melaksanakan kegiatan Codex di Indonesia, telah dibentuk Organisasi Codex Indonesia yang melibatkan pihak terkait dan instansi pemerintah dalam bidang keamanan dan perdagangan pangan, seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), BSN serta Kementerian Luar Negeri. Dina Manafe/WBP Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu